Simply life
Thursday, May 25, 2006
"Aduh kok saya dari tadi tidak dipanggil-panggil" ya gumam Ibu yang duduk disebelah seorang perempuan sambil mukanya menghadap kepada perempuan tersebut. "Ibu sudah daftar belum?" tanya perempuan tersebut. Sudah dari tadi pagi kok saya daftarnya, tapi yang masuk duluan malah Ibu kamu, ujar Ibu tersebut sambil menunjuk kepintu tepat ketika Ibu dari perempuan tersebut masuk kedalam ruangan Phisioteraphy. Perempuan tersebut tidak menjawab karena bingung jawaban apa yang harus dia katakan kepada Ibu tersebut karena memang Ibu dari perempuan tersebut sudah diurus oleh keponakan perempuan tersebut dikarenakan karena keponakannya adalah dokter dirumah sakit sehingga unsur KKN masih dipergunakan.
Kemudian Ibu tersebut mulai melanjutkan berbicara dengan menceritakan bagaimana sakit kakinya karena mengalami pengapuran dan dia sudah bolak-balik melakukan Phisioteraphy sebanyak 15 kali, dan melakukan tusuk jarum (akupunktur) sebanyak 5 kali dan sembuhnya beliau berkat tusuk jarum tersebut yang sama sekali tidak direkomendasikan oleh dokter karena menurut beliau dokter takut dibilang tidak bisa menyembuhkan ibu tersebut kalau disuruh melakukan tusuk jarum (akupunktur).
Beberapa menit kemudian si Ibupun mulai melanjutkan ceritanya, bahwasanya dia tinggal hanya berdua dengan pembantunya yang orang Sukabumi dan pembantu tersebutpun sudah memasuki usia senja juga seperti dia, dan kemana-mana si Ibu selalu pergi sendirian. Kemudian si perempuan mulai tertarik dengan cerita Ibu tersebut dan mulai menanyakan lebih pribadi lagi, mengenai keluarga si Ibu. Ternyata Ibu tersebut mempunyai 4 anak, 3 putra dan 1 putri, suaminya sudah lama meninggal, dan satu putranya juga sudah menjadi almarhum, menyusul suaminya ke alam baqa, sekarang yang tinggal adalah 2 putranya dan 1 putrinya. Kemudian si perempuan menanyakan mengapa Ibu tersebut tidak tinggal dengan putra dan putrinya, rupanya Ketiga anak-anak si Ibu sangat takut kepada pasangan mereka masing-masing. Anak laki-lakinya yang paling tua menikah dengan janda beranak 3 yang berasal dari sebuah kota kecil didaerah Sumatra dengan penghidupan yang sangat susah dan kemudian menjadi sombong setelah menikah dengan anak Ibu tersebut karena sudah menjadi kaya bahkan anak laki-laki dari Ibu tersebut dilarang untuk mengunjungi Ibunya tanpa seijin dari Istrinya. Ketika anak-anak tirinya sudah dewasa dan sudah menikah, anak Ibu tersebut masih juga harus menafkahi mereka karena suami-suami dari anak-anak tirinya tidak pada bekerja dan bergantung penghidupannya pada anak dari Ibu tersebut, dan lebih getir lagi Ibu tersebut juga mempunyai perasaan bahwa istri dari anak laki-lakinya yang tua itu mempunyai hubungan gelap dengan menantunya. Si Perempuan begitu takjub mendengar cerita Ibu tersebut dan secara spontan dia berseru "Ah masak sih bu", " Enggak mungkinlah bu", loh memang benar kata Ibu tersebut karena si menantu tiri dari anak laki-lakinya tersebut tidaklah boleh keluar dari rumah anak laki-laki dan menantu ibu tersebut untuk bertahun-tahun. Kemudian si Ibu melanjutkan lagi ceritanya dengan anak perempuannya yang begitu sukses dalam usahanya tetapi sangat takut pada suaminya, bahkan
Sunday, May 21, 2006
Bu Tarina bisa pijit enggak nanti malem, abis Maghrib. Bisa, siapa yang mau dipijit? Situ ya? tanya bu Tarina kepada kliennya. iya bu,Aku tunggu ya Bu, jawab kliennya.
30 menit setelah azan maghrib, datanglah Ibu Tarina, dengan logat jawa betawinya dia langsung naik keatas kekamar kliennya. Disana kliennya sudah menunggu untuk dipijit dengan sebotol baby lotion ditangannya dan sehelai handuk.
Kliennya langsung memberitahukan bagian-bagian penting yang perlu dipijat oleh bu Tarina, dan seperti biasa bu Tarina memijit dengan pelan-pelan terlebih dahulu sambil meraba-raba urat-urat dan otot-otot si Klien. Si Klienpun memejamkan matanya sambil menikmati pijatan bu Tarina, tidak berapa lama bu Tarina mulai menarik dan menggulung lengan bajunya, pijatannya yang tadinya pelan berubah menjadi keras dan mulai menekan-nekan urat-urat dan otot-otot si Klien. Si Klien mulai merintih dan sambil berucap, bu Tarina jangan keras-keras bu. Tapi rintihan si Klien diabaikan oleh bu Tarina, bahkan si Klien dimarahi oleh bu Tarina " Stt, Diem!, Diem!" si Klien tetap merintih dan menggeliat-geliat, sampe waktunya bu Tarina mulai memelankan kembali pijitan dan si Klien kembali tenang dan mulai bisa memejamkan matanya. Kemudian bu Tarina mulai membuka percakapan dengan menceritakan seputar rumah tangganya yang sebetulnya akan menjadi harmonis kalau hanya dia dan suaminya, tanpa perlu digerocoki oleh madunya yang merupakan istri pertama dari suaminya. Sambil memijat si Klien bu Tarina bercerita bagaimana madunya sangat cemburu pada bu Tarina setiap kali si Istri pertama tersebut akan melakukan hubungan dengan suaminya, dia selalu menuduh bahwa suami mereka lebih menikmati hubungan dengan bu Tarina. Si Istri pertama juga selalu meminta uang pada suaminya, sementara itu bu Tarina sangat kesal dengan kehidupan madunya yang tidak pernah merasa cukup dengan uang yang dibagikan kepadanya tersebut, karena sebagai orang yang mengatur keuangan dalam rumah tangga mereka bu Tarina merasa sudah melakukannya dengan adil, dan sebagai tukang pijit yang mempunyai penghasilan sendiri, bu Tarina merasa sangat pantas jika hidupnya lebih layak dari madunya.
Bu Tarina selalu menolak ajakan suaminya untuk berhubungan dikala gilirannya tiba, dan dia akan berkata kepada suaminya "simpan saja mas tenagamu untuk maduku disana", sang klien yang masih single mendengarkan dengan seksama sambil menikmati pijatannya, meskipun dia bingung komentar apa yang harus dia berikan kepada bu Tarina, mengingat dia masih single belum punya pengalaman mengenai hal-hal rumah tangga, dan lebih bingung lagi adalah sebagai istri kedua dari suaminya, seharusnya bu Tarina berterima kasih kepada madunya yang pertama yang telah dengan rela dan ikhlas mau membagi suaminya dengan bu Tarina sesuai dengan ajaran agama islam yaitu menyetujui perkawinan bu Tarina dengan suaminya dengan menanda tangani surat persetujuan pernikahan tanpa bu Tarina harus melakukan selingkuh dengan suaminya. Dan ini bukan cerita pertama kali dari bu Tarina kepada kliennya tersebut, selalu ada up-date terbaru dari bu Tarina mengenai rumah tangganya setiap kali dia undang oleh si Klien untuk memijatnya.
Si Klien juga sempat memberitahukan bu Tarina bahwa sebagai istri kedua dari suaminya, bu Tarina tidak berhak mendapat biaya asuransi pengobatan dari sang suami, karena untuk kantor BUMN tempat suami bu Tarina bekerja yang diaku adalah istri pertama. Bu Tarina manggut-manggut sambil berkomentar ya tapi gaji aku yang memegang dan membaginya. Cerita akan ditutup setelah jam mendekati angka 9 malam, karena waktu bu Tarina untuk pulang kerumahnya, karena sudah larut malam. Si Klien bersiap-siap untuk tidur malam karena besok dia sudah harus berangkat dan bekerja kembali, sambil tertawa geli sendiri, memikirkan apalagi yang akan diceritakan oleh bu Tarina mengenai si Madunya tsb kalau si Klien mengundangya lagi untuk memijitnya dihari berikutnya.
Tuesday, May 16, 2006
"AKU DAN DIA"
" Bener kamu mau tahu kenapa aku enggak angkat telpon kamu, enggak mau bales MSN", " Bener kamu penasaran". Dia menjawab dengan tulus, iya, bener aku mau tahu, dan aku penasaran. Kalau gitu kamu datang ketempatku, nanti aku jelasin. Okay katanya, aku akan datang ketempatmu. Saat ini aku menyesal telah berkata seperti itu kepadanya yang harusnya tidak aku lakukan. Tapi seperti kata pepatah "Nasi telah menjadi bubur", biarkanlah itu telah berlalu meskipun aku tahu bahwa dia sudah tidak seperti dulu lagi, bahkan dia sangat hati-hati setiap berjumpa denganku.
Aku berjumpa dengannya satu tahun lalu disaat aku sedang dididik oleh Allah, dan dipertemukan oleh-Nya juga, dan aku mensyukuri pertemuan tersebut. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa kami akan menjadi dekat, walaupun ada perbedaan yang sangat jauh diantara kami tapi kami bisa membangun jembatan untuk mempertemukan perbedaan kami tersebut. Saat-saat yang paling aku ingat adalah ketika pertama kali aku memutuskan untuk memakai jilbab, dan saat itu aku belum mempunyai jilbab dan berencana hendak membelinya, dan dialah orang yang menemaniku dalam membeli jilbabku yang pertama dan memberikan komentar mengenai jilbab yang sedang aku coba.
Pandanganku yang kebarat-baratan pelan-pelan mulai berubah menjadi ketimuran dengan buku-buku novel dan cerita-cerita yang dia berikan dan pinjamkan kepadaku. Ternyata ada dunia dari sisi lain yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Kedekatanku dengannya semakin hari semakin jauh tapi aku tidak berani untuk melangkah lebih jauh karena aku tahu ada sesuatu gap diantara kami yang tidak memungkin untuk aku tanyakan padanya (ketika aku mengetik kalimat ini tetes-tetes airmataku bercucuran), dan aku juga tidak tahu perasaan dia terhadapku, hanya Allah dan dia yang tahu mengenai hal itu.
Beberapa lama dia tidak menghubungiku, kemudian aku tahu ternyata dia sedang melakukan pendekatan dengan teman wanitanya. Walaupun aku tahu cinta pertamanya adalah untuk seorang wanita yang dia kagumi, yang mempunyai pemikiran modern dibalik jilbab yang membungkus auratnya.
MSNnya yang tiba-tiba muncul kembali membuat aku sangat terkejut, dan memulainya dengan mengatakan betapa sombongnya aku. Aku sempat terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Tapi karena niat yang tulus dari aku dan dia membuat pembicaraan berjalan lancar dan seperti yang dulu lagi. Dia mulai dekat lagi padaku dan aku mulai tergantung kembali padanya. Hingga pada suatu hari didalam suatu pesta aku melihatnya kembali mendekati " Wanita cinta pertamanya" dan dia sama sekali tidak berusaha untuk menegurku, seolah-olah aku dan dia tidak pernah kenal satu sama lain. Aku begitu marah, dan kemarahan itu aku pendam dan aku menghindar darinya. Hingga akhirnya dia merasa sesuatu telah terjadi antara aku dan dia, dan aku akhirnya bertanya padanya apakah "dia benar-benar ingin tahu mengapa aku menghindar darinya" ternyata apa yang aku ungkapkan kepadanya telah membuat hubunganku dan dia menjadi berubah.
Saat ini aku berdoa supaya Allah Ta'ala memaafkan apa yang telah aku lakukan padanya, dan kami diberikan kebahagiaan masing-masing dan diridhoi oleh Allah S.W.T.
